MISKIN STRATEGI MENGAJAR KUALITAS PENDIDIKAN TURUN di Takengon

MISKIN STRATEGI MENGAJAR KUALITAS PENDIDIKAN TURUN di Takengon
Oleh
Drs. Darul Aman, M.Pd *
Menurut surat kabar harian: Kompas (2004), Metro (2005), Serambi Indonesia (2006) dan Singgalang (2007) masing-masing menggambarkan bahwa dalam pelaksanaan Ujian Nasional hampir setiap guru memberikan suplai gratis berupa cucuran jawaban kepada siswa. Artinya, kemampuan siswa dalam tidak menguasai materi pelajaran yang diberikan guru saat PBM berlangsung, hal ini mungkin dari diri siswa yang kurang memperhatikan pelajarannya, atau disebabkan karena cara guru mengajar yang monoton. Dengan demikian, perlu adanya pemberian materi pembelajaran bagi guru-guru berupa metode, pendekatan, dan strategi mengajar yang baik menjadi landasan kuat untuk meningkatkan kualitas guru itu sendiri dengan standardisasi rata-rata bukan standardisasi minimal. Sungguh ironi memang, sedikitnya 50 persen para pelaku pendidikan di lembaga pendidikan (guru) seluruh Indonesia tidak memiliki kualitas sesuai Standardisasi Pendidikan Nasional (SPN) “Saat ini baru 50 persen dari guru se-Indonesia yang memiliki standardisasi dan kompetensi. Kondisi seperti ini masih dirasa kurang. Sehingga kualitas pendidikan kita belum menunjukkan peningkatan yang signifikan,” Sutjipto (2007). Pantas sekali, apa yang dilakukan guru-guru yang tergambar diatas samasekali bukan karena siswa kurang mampu dalam mengikuti pembelajaran akan tetapi kelemahan guru dalam memberikan materi yang kurang hidup kondisi kelasnya.
Dengan kata lain, guru mengajar dengan metode kelasikal padahal guru seharusnya memberikan banyak peluang belajar bagi siswa didalam kelas berupa learning experience. Berdasarkan catatan Human Development Index (HDI), fakta ini menunjukkan bahwa mutu guru di Indonesia masih jauh dari memadai untuk melakukan perubahan yang sifatnya mendasar macam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dari data statistik HDI terdapat 60% guru SD, 40% SLTP, SMA 43%, SMK 34% dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu, 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan bidang studinya. Dengan demikian, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kita adalah urutan 109 dari 179 negara di dunia.
Kenyataan itu sungguh menyedihkan bagi kita selaku pendidik yang hampir setiap tahun belum menunjukkan hasil yang memuaskan apalagi kalau kita banding dengan kualitas pendidikan di beberapa Negara Asia Tenggara lainnya padahal kurikulum pendidikan Negara tersebut tidak berbeda dengan kurikulum pendidikan Republik Indonesia. Pengamatan penulis, pemahaman dan penerapan KBK/KTSP masih jauh dari harapan. Bahkan secara nasional tidak tersedia tutor yang benar-benar paham prinsip-prinsip maupun penerapan dari KBK/KTSP ini secara tuntas. Para guru bahkan belum mengenal pengajaran dengan menggunakan projek-projek yang menggabungkan beberapa mata pelajaran sekaligus.
Pengajaran tematik bahkan masih asing terdengar oleh para guru. Selain itu, guru belum memahami konstelasi bidang studi yang diajarkannya dalam kaitan dan hubungannya dengan bidang studi lain dan masih melihat berbagai bidang studi secara terpisah dan tersendiri tanpa ada hubungan dengan bidang studi lain. Guru masih melihat bidang studinya berupa “teks” dan belum “konteks” karena metode Contekstual Teaching and Learning (CTL) masih berupa wacana dan belum menjadi pengetahuan, apalagi keterampilan bagi para guru untuk mengkondisikan siswanya agar benar-benar aktif belajar dan menguasai secara detail. Menurut Suyanto (2005) setiap guru harus diajak terus menerus untuk berubah dengan dilatih dalam pembuatan satuan pelajaran yang sesuai dengan tuntunan kekinian bukan berarti yang lama kurang baik akan tetapi harus mencari yang lebih baik dan bersifat inovatif dalam model pembelajaran, metode pembelajarannya yang berbasis Inquiry, Discovery, Contekstual Teaching and Learning, menggunakan alat bantunya sesuai dengan bidang studi. misalnya, mata pelajaran Fisika, kimia, dan biologi sebaiknya sering-sering menuntun mereka kedalam laboratorium untuk melakukan praktik sehingga tahu apa yang menjadi target dalam pembelajaran (Arwizet, 2007), menyusun evaluasinya, dan perubahan filosofinya, dan sebagainya sehingga siswa tersebut sangat tidak memungkinkan membutuhkan suplai gratis dari guru pengawas saat berhadapan dengan Ujian Nasional (UN) setiap tahun.
Untuk diketahui, bahwa model pembelajaran kontekstual yang didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) menyimpulkan bahwa setiap siswa akan belajar dengan baik apabila yang dipelajarinya ada relevansinya dengan kegiatan yang akan terjadi di sekelilingnya dan inilah pembelajaran yang disebut dengan learning experience . Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir siswa yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan berbagai pengetahuan yang terkait dengan diatas, Di sini, guru sebagai perangsang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada serta mengarahkan siswa bertanya, memfasilitasi siswa dengan berbagai kebutuhan lapangan (Darul Aman, 2007), membuktikan asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda dengan mereka.
Selanjutnya, memanfaatkan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar; guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan siswa misalnya, di sekolah tentang praktikum berbagai mata pelajaran baik yang eksakta maupun yang social, keluarga , dan lingkungan masyarakatnya serta penugasan siswa untuk belajar di luar kelas. Hal lain dari kegiatan diatas adalah memberikan aktivitas kelompok (small group discussion); Aktivitas belajar secara kelompok dapat memperluas perspektif serta membangun kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain. Small group discussion mampu membentuk sikap siswa menjadi toleransi, bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan guru, dapat membantu siswa lainnya yang sedikit lemah, melatih siswa untuk lebih percaya diri dan meningkatkan keterampilan kepemimpinan dalam wadah belajar (Darul Aman, 2005). Guru dapat menyusun kelompok terdiri dari tiga, lima, maupun delapan siswa sesuai dengan tingkat kesulitan penugasan. Sebagai guru harus mampu menciptakan suasana aktivitas belajar secara mandiri bagi siswa, artinya peserta didik diberi pengarahan dan informasi-informasi terbaru tentang fenomena yang ada, disuruh menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru samasekali sehingga pengetahuan siswa semakin hari semakin bertambah. Pengalaman pembelajaran kontekstual harus mengikuti uji coba terlebih dahulu; menyediakan waktu yang cukup, dan menyusun refleksi; serta berusaha tanpa meminta bantuan guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri (independent learning).
Dengan cara seperti diatas, besar kemungkinan bagi siswa mampu menjadi menunjukkan prestasinya yang gemilang baik dikelas maupun di lingkungan masyarakat. Sebagai pendidik, mampu menciptakan hubungan dengan masyarakat sehingga proses belajar mengajar bukan saja diperoleh dilingkangan sekolah akan tetapi juga dimasyarakat atau sering disebut dengan learning based society dan membuat aktivitas belajar bekerja sama dengan masyarakat; sekolah dapat melakukan kerja sama dengan institusi pemerintah/swasta dan orang tua siswa yang memiliki keahlian khusus untuk menjadi guru tamu. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan pengalaman belajar secara langsung di mana siswa dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan tentang minat (interest) terHadap dunia nyata yang membentang dihadapannya (Agustiarsyah Nur, 2007).
Akhirnya, sebagai guru harus mampu untuk menerapkan penilaian autentik; Dalam pembejalaran kontekstual, penilaian autentik dapat membantu siswa untuk menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu. Menurut Johnson (2002:165), penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari selama proses belajar-mengajar, diharapkan siswa mampu mempraktikan oleh pengetahuan yang ada baik yang didapat dari proses pembelajaran maupun yang diproleh melalui pengalamannya. Adapun bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru adalah portofolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis. Sebagai penjabarannya antara lain, portofolio; merupakan kumpulan tugas yang dikerjakan siswa dalam konteks belajar di kehidupan sehari-hari. Siswa diharapkan untuk mengerjakan tugas tersebut supaya lebih aktif dan kreatif. Mereka memperoleh kebebasan dalam belajar sekaligus memberikan kesempatan luas untuk berkembang Sebagai contoh, siswa diminta untuk melakukan survei mengenai jenis-jenis pekerjaan di lingkungan rumahnya, meneliti secara kecil-kecilan dan membuat laporannya dengan gaya bahasa yang sederhana tanpa perlu dikoreksi dengan sempurna karena melalui proses pembelajaran siswa akan mampu sendiri untuk berbuat baik. Tugas kelompok; dalam pembelajaran kontekstual berbentuk pengerjaan projek.
Kegiatan ini merupakan cara untuk mencapai tujuan akademik sambil mengakomodasi perbedaan gaya belajar, minat, serta bakat dari masing-masing siswa (Willing, 1989). Oleh karena itu tugas ini dapat meningkatkan partisipasi siswa. Sebagai contoh, siswa diminta membentuk kelompok projek untuk menyelidiki penyebab pencemaran sungai di lingkungan siswa, penyebab terjadinya longsor, banjir, kebakaran dan bahkan kekeringan. Guru yang kaya akan strategi dalam melaksanakan PBM akan menghasilkan siswa-siswa yang terampil dan memiliki kualitas yang baik dalam mengaplikasikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat dikemudian hari. Untuk mengetahui lebih detail apakah siswa telah menguasai maka siswa diminta untuk menampilkan hasil penugasan kepada orang lain mengenai kompetensi yang telah mereka kuasai. Para pemerhati sebaiknya memberikan evaluasi praktik yang dilakukan siswa. Sebagai contoh, siswa diminta membentuk kelompok untuk menampilkan hasil penelitian laboratorium, hasil penelitian lingkungan, dan kalau memungkinkan hasil laporan UKS sehingga memberikan kontribusi terhadap aktivitas sekolah. Dengan demikian, secara filosofis maupun praktis guru harus paham hal-hal mendasar seperti prinsip belajar otak kiri dan kanan, pendekatan Quantum Teaching and Learning, pemahaman tentang Multiple Intelligences dan penerapannya di kelas, Taksonomi Bloom dan aplikasinya pada proses belajar mengajar, metode pengajaran Conekxtual Teaching and Learning, mengakses dan memanfaatkan internet sebagai wahana belajar, mengorkestrasikan materi yang diajarakannya dengan materi pelaharan lain.
Dari yang dikemukakan di atas, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) perlu dikembangkan supaya dapat diterapkan secara efektif di dalam proses belajar mengajar. Guru sebagai pelaksana kurikulum dapat menerapkan strategi pembelajaran kontekstual supaya dapat memberikan bentuk pengalaman belajar. Dan strategi pembelajaran kontekstual yang memiliki banyak variasi sehingga memungkinkan guru untuk mengembangkan berbagai model pembelajaran yang berbeda dan menarik untuk mengembangkan daya pikir siswa ke arah berfikir produktif. Tujuannya adalah tidak lain kecuali mennciptakan iklim belajar yang PAKEM. Menurut Brooks & Brokks dalam Johnson (2002:172), bentuk penilaian yang dilakukan seperti tergambar diatas lebih baik dari pada menghafalkan teks sebanyak mungkin, siswa dituntut untuk menggunakan keterampilan berpikir yang lebih tinggi guna membantu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa para guru yang menangani berbagai disiplin ilmu tidak melakukan semua diatas, sudah barang tentu bahwa guru masih ragu melakukan kegiatan seperti diutarakan diatas karena ,miskin strategi dan materi.
*Penulis adalah mahasiswa program Doktor (S3) UNP-Padang.

Referensi:
Suyanto. 2005
Willing, 1989
Brooks & Brokks. 2002:172

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: